http://www.4shared.com/audio/PsqV1YUS/111-queen_-_love_of_my_life.html?s=1
Love of my life, you hurt me,
You've broken my heart, and now you leave me.
Love of my life can't you see,
Bring it back bring it back,
Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me.
Love of my life don't leave me,
You've stolen my love now desert me,
Love of my life can't you see,
Bring it back bring it back,
Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me.
You will remember when this is blown over,
And everythings all by the way,
When I grow older,
I will be there at your side,
To remind you how I still love you
I still love you.
Hurry back hurry back,
Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me.
Love of my life,
Love of my life.
Selasa, 13 April 2010
Selasa, 30 Maret 2010
Minggu, 21 Maret 2010
Rasa
Jika Anda sakit hati… ???
Apa yang Anda lakukan…???
Contoh nih…
Atasan kamu… marah – marah tentang ketidak beresan kerja kamu…
sambil memaki – maki lagi …
Sakit hati kan ???
Atau bahkan orang tua kamu…
Yang “pas” sedang capek…
Terus lihat kamu berbuat salah…
Kamu dimarahin… dimaki – maki… dsb…
Sakit hati kan ???
Atau…..Pembantu kamu…
Yang ternyata menyetrika baju kesayangan kamu…
Karena kelalaiannya… jadi terbakar dan berlubang…
Grrr… langsug keluar dech “tanduk” di kepalamu…
Atau…...Pacar kamu…
Yang gak ada angin… gak ada hujan…
Tiba – tiba… mutusin kamu…
(kalau yang ini… gak usah dibahas dech… gimana reaksinya…???)
Tahukah Anda…..Bahwa lebih 70 % penyakit fisik berawal dari -bagaimana memperlakukan “rasa”-…
Bahkan penyakit psikologis pun… juga berawal dari bagaimana memperlakukan “rasa”…
Dalam tinjauan “psikologi” -masa lalu-…
Ada dua cara memperlakukan “rasa”…
Apa itu ???
Pertama : Me’repres’ atau menekan atau menahan “rasa” tersebut…
Kedua : Mengekspresikan atau memunculkan “rasa” tersebut…
Orang Indonesia atau khususnya orang Jawa tidak jarang menggunakan cara yang pertama…
Ada sebuah hambatan untuk “mengaktualisasikan” perasaannya…
Bahkan dengan dalih… berpikir positif… dan “biar kelihatan” bijak…
Ketika dengan atasannya… seseorang lebih baik diam…
Terus berpikir positif… Ah gak pa pa… emang saya kok salah…
Dia kan Bos… jadi gak boleh marah…
Apalagi dengan orang tuanya…
Gak pa pa… gak pa pa… kan harus jadi anak berbakti…
Kalau “gak pa pa” nya… bersumber dari keikhlasan dan kerelaan hati…
Itu sangat baik… dan itu memang yang harus dilakukan…
Namun apabila “gak pa pa” namun…
Hati masing “mendongkol”… atau masih “Berperasaan Negatif”…
Itu yang masalah… dan dapat menumpuk masalah di kemudian hari…
Me”repress” sama saja kita ingin menafikkan “rasa”… meniadakan “rasa”… menghindari “rasa”… menahan “rasa”… menyimpan “rasa”… atau berusaha melupakan “rasa”…
Cara tersebut… bukan cara yang tepat… untuk memperlakukan rasa…
Cara yang kedua..
Yaitu Mengekspresikan “rasa”…
Makhsudnya… Anda mengaktulisasikan rasa tersebut bahkan melampiaskan rasa tersebut…
Terus apa yang dilakukan…???
Anda balik memaki – maki atasan Anda, pembantu Anda, pacar Anda… atau bahkan orang tua Anda … (Lho…???)
Baik secara langsung…. Atau pun ngegosipin… maki – maki dalam kamar… maki – maki dalam buku diary… atau maki – maki di facebook… (he he he..)
Sebenarnya cara tersebut juga bukan cara yang sehat…
Terus harusnya gimana ???
Dalam psikologi transpersonal…
Ada tambahan cara untuk memperlakukan rasa…
Yaitu : melepaskan rasa…
Makhsudnya… ???
Anda ‘mustahil’ bisa ikhlas dan rela terhadap rasa…
Jika Anda belum ‘melepas’ rasa tersebut…
Apalagi jika caranya “direpress” atau “diekspresikan”…
Hal tersebut… hanyalah kerelaan & keihlasan semu…
Hal yang pertama harus Anda lakukan, adalah…
Anda harus bisa “MENERIMA” rasa Anda…
Kenali Rasa Anda… dan Terima Apa Adanya…
Banyak orang yang masih menafikkan Rasa yang ada dalam diri…
Kita malu… untuk merasakan… bahwa kita masih “sayang” dengan mantan kita…
Kita takut… untuk merasakan… marah tentang perlakuan bos dan ortu kita…
Kita segan… untuk merasakan … jengkel pada pembantu kita… dikira gak bijak nanti…
Apapun itu… berawal dari keberanian kita …
Untuk mengenal “rasa”… dan menerima apa adanya…
Jika kita sudah bisa mengenal dan menerima “Rasa” …
Perlahan… kita lepaskan “rasa” tersebut…
Salah satu cara yang sering digunakan…
Adalah dengan “visualisasi” rasa tersebut…
Kita lepas… seiring kita melepas “napas” kita…
Ada beberapa teknik Mind Therapy untuk melakukan tersebut…
Atau bahkan terapi Transpersonal… untuk melakukannya…
Atau Anda dapat melakukan sendiri…
dengan “ritual” spiritual… (Do’a, dzikir, sholat dsb… apapun keyakina Anda…)
Dalam do’a kita… kita lepaskan rasa ini… kita ikhlaskan rasa ini…
Dan kita kembalikan “rasa” ini pada Sang pembuat “rasa”…
Kita serahkan hidup kita… pada Dzat yang menggenggam kehidupan…
Berikan “Cinta kasih” pada orang yang “menyakiti” Anda…
“Aku memaafkan kamu… Aku mengasihi kamu… Semoga Engkau mendapat Kebaikan…”
Biarkan vibrasi positif Anda… teresonansi kembali pada Anda…
Selanjutnya… senantiasa “berikan” sugesti positif dalam lintasan pikiran Anda setiap saat…
Karena terkadang… keikhlasan tidak kita ciptakan dalan satu “kejadian”….
Karena keihlasan… adalah pekerjaan hati yang gak bisa dipaksakan…
Biarkan mengalir apa adanya… sehingga keikhlasan… datang sendiri pada Anda…
……………………………………………………………………………………
“Lebih baik… menerima… merasakan… dan melepaskan… “RASA”… satu hari…
dari pada menahan… menyimpan… untuk berusaha melupakan “RASA”…
karena justru akan te“RASA”… setiap hari…”
……………………………………………………………………………………
Apa yang Anda lakukan…???
Contoh nih…
Atasan kamu… marah – marah tentang ketidak beresan kerja kamu…
sambil memaki – maki lagi …
Sakit hati kan ???
Atau bahkan orang tua kamu…
Yang “pas” sedang capek…
Terus lihat kamu berbuat salah…
Kamu dimarahin… dimaki – maki… dsb…
Sakit hati kan ???
Atau…..Pembantu kamu…
Yang ternyata menyetrika baju kesayangan kamu…
Karena kelalaiannya… jadi terbakar dan berlubang…
Grrr… langsug keluar dech “tanduk” di kepalamu…
Atau…...Pacar kamu…
Yang gak ada angin… gak ada hujan…
Tiba – tiba… mutusin kamu…
(kalau yang ini… gak usah dibahas dech… gimana reaksinya…???)
Tahukah Anda…..Bahwa lebih 70 % penyakit fisik berawal dari -bagaimana memperlakukan “rasa”-…
Bahkan penyakit psikologis pun… juga berawal dari bagaimana memperlakukan “rasa”…
Dalam tinjauan “psikologi” -masa lalu-…
Ada dua cara memperlakukan “rasa”…
Apa itu ???
Pertama : Me’repres’ atau menekan atau menahan “rasa” tersebut…
Kedua : Mengekspresikan atau memunculkan “rasa” tersebut…
Orang Indonesia atau khususnya orang Jawa tidak jarang menggunakan cara yang pertama…
Ada sebuah hambatan untuk “mengaktualisasikan” perasaannya…
Bahkan dengan dalih… berpikir positif… dan “biar kelihatan” bijak…
Ketika dengan atasannya… seseorang lebih baik diam…
Terus berpikir positif… Ah gak pa pa… emang saya kok salah…
Dia kan Bos… jadi gak boleh marah…
Apalagi dengan orang tuanya…
Gak pa pa… gak pa pa… kan harus jadi anak berbakti…
Kalau “gak pa pa” nya… bersumber dari keikhlasan dan kerelaan hati…
Itu sangat baik… dan itu memang yang harus dilakukan…
Namun apabila “gak pa pa” namun…
Hati masing “mendongkol”… atau masih “Berperasaan Negatif”…
Itu yang masalah… dan dapat menumpuk masalah di kemudian hari…
Me”repress” sama saja kita ingin menafikkan “rasa”… meniadakan “rasa”… menghindari “rasa”… menahan “rasa”… menyimpan “rasa”… atau berusaha melupakan “rasa”…
Cara tersebut… bukan cara yang tepat… untuk memperlakukan rasa…
Cara yang kedua..
Yaitu Mengekspresikan “rasa”…
Makhsudnya… Anda mengaktulisasikan rasa tersebut bahkan melampiaskan rasa tersebut…
Terus apa yang dilakukan…???
Anda balik memaki – maki atasan Anda, pembantu Anda, pacar Anda… atau bahkan orang tua Anda … (Lho…???)
Baik secara langsung…. Atau pun ngegosipin… maki – maki dalam kamar… maki – maki dalam buku diary… atau maki – maki di facebook… (he he he..)
Sebenarnya cara tersebut juga bukan cara yang sehat…
Terus harusnya gimana ???
Dalam psikologi transpersonal…
Ada tambahan cara untuk memperlakukan rasa…
Yaitu : melepaskan rasa…
Makhsudnya… ???
Anda ‘mustahil’ bisa ikhlas dan rela terhadap rasa…
Jika Anda belum ‘melepas’ rasa tersebut…
Apalagi jika caranya “direpress” atau “diekspresikan”…
Hal tersebut… hanyalah kerelaan & keihlasan semu…
Hal yang pertama harus Anda lakukan, adalah…
Anda harus bisa “MENERIMA” rasa Anda…
Kenali Rasa Anda… dan Terima Apa Adanya…
Banyak orang yang masih menafikkan Rasa yang ada dalam diri…
Kita malu… untuk merasakan… bahwa kita masih “sayang” dengan mantan kita…
Kita takut… untuk merasakan… marah tentang perlakuan bos dan ortu kita…
Kita segan… untuk merasakan … jengkel pada pembantu kita… dikira gak bijak nanti…
Apapun itu… berawal dari keberanian kita …
Untuk mengenal “rasa”… dan menerima apa adanya…
Jika kita sudah bisa mengenal dan menerima “Rasa” …
Perlahan… kita lepaskan “rasa” tersebut…
Salah satu cara yang sering digunakan…
Adalah dengan “visualisasi” rasa tersebut…
Kita lepas… seiring kita melepas “napas” kita…
Ada beberapa teknik Mind Therapy untuk melakukan tersebut…
Atau bahkan terapi Transpersonal… untuk melakukannya…
Atau Anda dapat melakukan sendiri…
dengan “ritual” spiritual… (Do’a, dzikir, sholat dsb… apapun keyakina Anda…)
Dalam do’a kita… kita lepaskan rasa ini… kita ikhlaskan rasa ini…
Dan kita kembalikan “rasa” ini pada Sang pembuat “rasa”…
Kita serahkan hidup kita… pada Dzat yang menggenggam kehidupan…
Berikan “Cinta kasih” pada orang yang “menyakiti” Anda…
“Aku memaafkan kamu… Aku mengasihi kamu… Semoga Engkau mendapat Kebaikan…”
Biarkan vibrasi positif Anda… teresonansi kembali pada Anda…
Selanjutnya… senantiasa “berikan” sugesti positif dalam lintasan pikiran Anda setiap saat…
Karena terkadang… keikhlasan tidak kita ciptakan dalan satu “kejadian”….
Karena keihlasan… adalah pekerjaan hati yang gak bisa dipaksakan…
Biarkan mengalir apa adanya… sehingga keikhlasan… datang sendiri pada Anda…
……………………………………………………………………………………
“Lebih baik… menerima… merasakan… dan melepaskan… “RASA”… satu hari…
dari pada menahan… menyimpan… untuk berusaha melupakan “RASA”…
karena justru akan te“RASA”… setiap hari…”
……………………………………………………………………………………
Kamis, 18 Maret 2010
Jurnal Syukur
Pada kali ini, saya ingin sharing mengenai apa itu jurnal syukur dan apa manfaatnya dalam kehidupan kita. Yang saya lakukan disini adalah berbagi dengan teman2 semuanya bahwa ada harta yang sangat berharga dan paling berharga. Dan itu adalah rasa di hati kita.Jurnal syukur merupakan tulisan2 yang kita buat atas rasa syukur terhadap apa yang kita dapatkan pada saat itu. Jurnal syukur sangat baik kalau ditulis dalam jangka waktu harian. Jadi, kita tulis minimal 3 hal apa yang kita dapatkan dalam hari itu atau sesuatu yang membuat kita bahagia dan bersyukur seperti mendapat uang, ditraktir teman, bertemu dengan orang baik, bahkan perlakuan baik orang kepada kita.
Dalam setiap harinya pasti ada saja hal yang perlu untuk disyukuri, bahkan nafas, detak jantung dan kehidupan kita sangatlah patut kita syukuri. Yang penting tulis saja, karena menulis adalah bahasa komunikasi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Dan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa menulis adalah untuk bentuk aktualisasi diri. Dengan menulis jurnal syukur, kita akan merasa berterima kasih sama Allah. Rasa terima kasih itulah yang pada akhirnya akan membuat kita merasa keberlimpahan atas anugerah Tuhan dan pastinya menimbulkan rasa bahagia di hati kita..
Setelah menulis jurnal syukur selama beberapa hari saja, lihatlah miracle2 yang datang dalam hidup kita. Semua anugerah datang seperti bola salju. Semakin besar, dan makin lama makin membesar. Hingga pada suatu saat kita akan menyadari betapa sangat sayangnya Dia pada kita.
Itulah mengapa ada ungkapan “Semakin banyak kita bersyukur, maka semakin banyak Tuhan memberi kita , more and more..”
Wish you always get the abundance in your life!!
by: IdaHapy
Rabu, 17 Maret 2010
Makna Kearifan dan Kecerdasan
By: agussyafii
Sekalipun liburan, tentunya masih banyak butiran-butiran mutiara hikmah yang masih kita temukan dimana saja. Semoga tulisan berikut ini bisa bermanfaat buat kita semua. yaitu memahami 'Makna Kearifan Dan Kecerdasan.'
Ketinggian manusia bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu memberi manfaat kepada kehidupan. Ada orang pintar tetapi keblinger sehingga kepintarannya justeru digunakan untuk “minteri” orang lain. Semakin pinter orang seperti itu maka semakin banyak orang lain yang menjadi korban dari kepintarannya.
Sebaliknya ada orang yang dari segi pendidikan formal ia biasa-biasa saja, tetapi dari segi pergaulan sosial orang itu banyak sekali memberi kemanfaatan kepada orang lain, karena setiap kali sedikit yang ia berikan justeru mengandung makna besar bagi yang menerima. Ia bukan saja tahu, tetapi juga arif. Ia bukan hanya pintar tetapi juga cerdas.
Nah kearifan dan kecerdasan ádalah ekpressi psikologis dari orang yang bijak. Bijak mengandung arti ketepatan. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bijak lebih dari itu yaitu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dari pemahaman itu maka kecerdasan bukan hanya menyangkut intelektualitas, tetapi juga emosi dan bahkan spiritual. Itulah makna kearifan dan kecerdasan.
"HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan-perbuatan baik sehingga Aku jatuh cinta padanya". (Hadist Qudsi).
Sekalipun liburan, tentunya masih banyak butiran-butiran mutiara hikmah yang masih kita temukan dimana saja. Semoga tulisan berikut ini bisa bermanfaat buat kita semua. yaitu memahami 'Makna Kearifan Dan Kecerdasan.'
Ketinggian manusia bukan hanya ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu memberi manfaat kepada kehidupan. Ada orang pintar tetapi keblinger sehingga kepintarannya justeru digunakan untuk “minteri” orang lain. Semakin pinter orang seperti itu maka semakin banyak orang lain yang menjadi korban dari kepintarannya.
Sebaliknya ada orang yang dari segi pendidikan formal ia biasa-biasa saja, tetapi dari segi pergaulan sosial orang itu banyak sekali memberi kemanfaatan kepada orang lain, karena setiap kali sedikit yang ia berikan justeru mengandung makna besar bagi yang menerima. Ia bukan saja tahu, tetapi juga arif. Ia bukan hanya pintar tetapi juga cerdas.
Nah kearifan dan kecerdasan ádalah ekpressi psikologis dari orang yang bijak. Bijak mengandung arti ketepatan. Jika adil mengandung arti menempatkan sesuatu pada tempatnya, bijak lebih dari itu yaitu menempatkan sesuatu tepat pada tempatnya. Dari pemahaman itu maka kecerdasan bukan hanya menyangkut intelektualitas, tetapi juga emosi dan bahkan spiritual. Itulah makna kearifan dan kecerdasan.
"HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan perbuatan-perbuatan baik sehingga Aku jatuh cinta padanya". (Hadist Qudsi).
Senin, 15 Maret 2010
Cara Memperlakukan Rasa
Jika Anda sakit hati… ???
Apa yang Anda lakukan…???
Contoh nih…
Atasan kamu… marah – marah tentang ketidak beresan kerja kamu…
sambil memaki – maki lagi …
Sakit hati kan ???
Atau bahkan orang tua kamu…
Yang “pas” sedang capek…
Terus lihat kamu berbuat salah…
Kamu dimarahin… dimaki – maki… dsb…
Sakit hati kan ???
Atau…
Pembantu kamu…
Yang ternyata menyetrika baju kesayangan kamu…
Karena kelalaiannya… jadi terbakar dan berlubang…
Grrr… langsug keluar dech “tanduk” di kepalamu…
Atau…
Pacar kamu…
Yang gak ada angin… gak ada hujan…
Tiba – tiba… mutusin kamu…
(kalau yang ini… gak usah dibahas dech… gimana reaksinya…???)
Tahukah Anda…
Bahwa lebih 70 % penyakit fisik berawal dari -bagaimana memperlakukan “rasa”-…
Bahkan penyakit psikologis pun… juga berawal dari bagaimana memperlakukan “rasa”…
Dalam tinjauan “psikologi” -masa lalu-…
Ada dua cara memperlakukan “rasa”…
Apa itu ???
Pertama : Me’repres’ atau menekan atau menahan “rasa” tersebut…
Kedua : Mengekspresikan atau memunculkan “rasa” tersebut…
Orang Indonesia atau khususnya orang Jawa tidak jarang menggunakan cara yang pertama…
Ada sebuah hambatan untuk “mengaktualisasikan” perasaannya…
Bahkan dengan dalih… berpikir positif… dan “biar kelihatan” bijak…
Ketika dengan atasannya… seseorang lebih baik diam…
Terus berpikir positif… Ah gak pa pa… emang saya kok salah…
Dia kan Bos… jadi gak boleh marah…
Apalagi dengan orang tuanya…
Gak pa pa… gak pa pa… kan harus jadi anak berbakti…
Kalau “gak pa pa” nya… bersumber dari keikhlasan dan kerelaan hati…
Itu sangat baik… dan itu memang yang harus dilakukan…
Namun apabila “gak pa pa” namun…
Hati masing “mendongkol”… atau masih “Berperasaan Negatif”…
Itu yang masalah… dan dapat menumpuk masalah di kemudian hari…
Me”repress” sama saja kita ingin menafikkan “rasa”… meniadakan “rasa”… menghindari “rasa”… menahan “rasa”… menyimpan “rasa”… atau berusaha melupakan “rasa”…
Cara tersebut… bukan cara yang tepat… untuk memperlakukan rasa…
Cara yang kedua..
Yaitu Mengekspresikan “rasa”…
Makhsudnya… Anda mengaktulisasikan rasa tersebut bahkan melampiaskan rasa tersebut…
Terus apa yang dilakukan…???
Anda balik memaki – maki atasan Anda, pembantu Anda, pacar Anda… atau bahkan orang tua Anda … (Lho…???)
Baik secara langsung…. Atau pun ngegosipin… maki – maki dalam kamar… maki – maki dalam buku diary… atau maki – maki di facebook… (he he he..)
Sebenarnya cara tersebut juga bukan cara yang sehat…
Terus harusnya gimana ???
Dalam psikologi transpersonal…
Ada tambahan cara untuk memperlakukan rasa…
Yaitu : melepaskan rasa…
Makhsudnya… ???
Anda ‘mustahil’ bisa ikhlas dan rela terhadap rasa…
Jika Anda belum ‘melepas’ rasa tersebut…
Apalagi jika caranya “direpress” atau “diekspresikan”…
Hal tersebut… hanyalah kerelaan & keihlasan semu…
Hal yang pertama harus Anda lakukan, adalah…
Anda harus bisa “MENERIMA” rasa Anda…
Kenali Rasa Anda… dan Terima Apa Adanya…
Banyak orang yang masih menafikkan Rasa yang ada dalam diri…
Kita malu… untuk merasakan… bahwa kita masih “sayang” dengan mantan kita…
Kita takut… untuk merasakan… marah tentang perlakuan bos dan ortu kita…
Kita segan… untuk merasakan … jengkel pada pembantu kita… dikira gak bijak nanti…
Apapun itu… berawal dari keberanian kita …
Untuk mengenal “rasa”… dan menerima apa adanya…
Jika kita sudah bisa mengenal dan menerima “Rasa” …
Perlahan… kita lepaskan “rasa” tersebut…
Salah satu cara yang sering digunakan…
Adalah dengan “visualisasi” rasa tersebut…
Kita lepas… seiring kita melepas “napas” kita…
Ada beberapa teknik Mind Therapy untuk melakukan tersebut…
Atau bahkan terapi Transpersonal… untuk melakukannya…
Atau Anda dapat melakukan sendiri…
dengan “ritual” spiritual… (Do’a, dzikir, sholat dsb… apapun keyakina Anda…)
Dalam do’a kita… kita lepaskan rasa ini… kita ikhlaskan rasa ini…
Dan kita kembalikan “rasa” ini pada Sang pembuat “rasa”…
Kita serahkan hidup kita… pada Dzat yang menggenggam kehidupan…
Berikan “Cinta kasih” pada orang yang “menyakiti” Anda…
“Aku memaafkan kamu… Aku mengasihi kamu… Semoga Engkau mendapat Kebaikan…”
Biarkan vibrasi positif Anda… teresonansi kembali pada Anda…
Selanjutnya… senantiasa “berikan” sugesti positif dalam lintasan pikiran Anda setiap saat…
Karena terkadang… keikhlasan tidak kita ciptakan dalan satu “kejadian”….
Karena keihlasan… adalah pekerjaan hati yang gak bisa dipaksakan…
Biarkan mengalir apa adanya… sehingga keikhlasan… datang sendiri pada Anda…
……………………………………………………………………………………
“Lebih baik… menerima… merasakan… dan melepaskan… “RASA”… satu hari…
dari pada menahan… menyimpan… untuk berusaha melupakan “RASA”…
karena justru akan te“RASA”… setiap hari…”
……………………………………………………………………………………
Apa yang Anda lakukan…???
Contoh nih…
Atasan kamu… marah – marah tentang ketidak beresan kerja kamu…
sambil memaki – maki lagi …
Sakit hati kan ???
Atau bahkan orang tua kamu…
Yang “pas” sedang capek…
Terus lihat kamu berbuat salah…
Kamu dimarahin… dimaki – maki… dsb…
Sakit hati kan ???
Atau…
Pembantu kamu…
Yang ternyata menyetrika baju kesayangan kamu…
Karena kelalaiannya… jadi terbakar dan berlubang…
Grrr… langsug keluar dech “tanduk” di kepalamu…
Atau…
Pacar kamu…
Yang gak ada angin… gak ada hujan…
Tiba – tiba… mutusin kamu…
(kalau yang ini… gak usah dibahas dech… gimana reaksinya…???)
Tahukah Anda…
Bahwa lebih 70 % penyakit fisik berawal dari -bagaimana memperlakukan “rasa”-…
Bahkan penyakit psikologis pun… juga berawal dari bagaimana memperlakukan “rasa”…
Dalam tinjauan “psikologi” -masa lalu-…
Ada dua cara memperlakukan “rasa”…
Apa itu ???
Pertama : Me’repres’ atau menekan atau menahan “rasa” tersebut…
Kedua : Mengekspresikan atau memunculkan “rasa” tersebut…
Orang Indonesia atau khususnya orang Jawa tidak jarang menggunakan cara yang pertama…
Ada sebuah hambatan untuk “mengaktualisasikan” perasaannya…
Bahkan dengan dalih… berpikir positif… dan “biar kelihatan” bijak…
Ketika dengan atasannya… seseorang lebih baik diam…
Terus berpikir positif… Ah gak pa pa… emang saya kok salah…
Dia kan Bos… jadi gak boleh marah…
Apalagi dengan orang tuanya…
Gak pa pa… gak pa pa… kan harus jadi anak berbakti…
Kalau “gak pa pa” nya… bersumber dari keikhlasan dan kerelaan hati…
Itu sangat baik… dan itu memang yang harus dilakukan…
Namun apabila “gak pa pa” namun…
Hati masing “mendongkol”… atau masih “Berperasaan Negatif”…
Itu yang masalah… dan dapat menumpuk masalah di kemudian hari…
Me”repress” sama saja kita ingin menafikkan “rasa”… meniadakan “rasa”… menghindari “rasa”… menahan “rasa”… menyimpan “rasa”… atau berusaha melupakan “rasa”…
Cara tersebut… bukan cara yang tepat… untuk memperlakukan rasa…
Cara yang kedua..
Yaitu Mengekspresikan “rasa”…
Makhsudnya… Anda mengaktulisasikan rasa tersebut bahkan melampiaskan rasa tersebut…
Terus apa yang dilakukan…???
Anda balik memaki – maki atasan Anda, pembantu Anda, pacar Anda… atau bahkan orang tua Anda … (Lho…???)
Baik secara langsung…. Atau pun ngegosipin… maki – maki dalam kamar… maki – maki dalam buku diary… atau maki – maki di facebook… (he he he..)
Sebenarnya cara tersebut juga bukan cara yang sehat…
Terus harusnya gimana ???
Dalam psikologi transpersonal…
Ada tambahan cara untuk memperlakukan rasa…
Yaitu : melepaskan rasa…
Makhsudnya… ???
Anda ‘mustahil’ bisa ikhlas dan rela terhadap rasa…
Jika Anda belum ‘melepas’ rasa tersebut…
Apalagi jika caranya “direpress” atau “diekspresikan”…
Hal tersebut… hanyalah kerelaan & keihlasan semu…
Hal yang pertama harus Anda lakukan, adalah…
Anda harus bisa “MENERIMA” rasa Anda…
Kenali Rasa Anda… dan Terima Apa Adanya…
Banyak orang yang masih menafikkan Rasa yang ada dalam diri…
Kita malu… untuk merasakan… bahwa kita masih “sayang” dengan mantan kita…
Kita takut… untuk merasakan… marah tentang perlakuan bos dan ortu kita…
Kita segan… untuk merasakan … jengkel pada pembantu kita… dikira gak bijak nanti…
Apapun itu… berawal dari keberanian kita …
Untuk mengenal “rasa”… dan menerima apa adanya…
Jika kita sudah bisa mengenal dan menerima “Rasa” …
Perlahan… kita lepaskan “rasa” tersebut…
Salah satu cara yang sering digunakan…
Adalah dengan “visualisasi” rasa tersebut…
Kita lepas… seiring kita melepas “napas” kita…
Ada beberapa teknik Mind Therapy untuk melakukan tersebut…
Atau bahkan terapi Transpersonal… untuk melakukannya…
Atau Anda dapat melakukan sendiri…
dengan “ritual” spiritual… (Do’a, dzikir, sholat dsb… apapun keyakina Anda…)
Dalam do’a kita… kita lepaskan rasa ini… kita ikhlaskan rasa ini…
Dan kita kembalikan “rasa” ini pada Sang pembuat “rasa”…
Kita serahkan hidup kita… pada Dzat yang menggenggam kehidupan…
Berikan “Cinta kasih” pada orang yang “menyakiti” Anda…
“Aku memaafkan kamu… Aku mengasihi kamu… Semoga Engkau mendapat Kebaikan…”
Biarkan vibrasi positif Anda… teresonansi kembali pada Anda…
Selanjutnya… senantiasa “berikan” sugesti positif dalam lintasan pikiran Anda setiap saat…
Karena terkadang… keikhlasan tidak kita ciptakan dalan satu “kejadian”….
Karena keihlasan… adalah pekerjaan hati yang gak bisa dipaksakan…
Biarkan mengalir apa adanya… sehingga keikhlasan… datang sendiri pada Anda…
……………………………………………………………………………………
“Lebih baik… menerima… merasakan… dan melepaskan… “RASA”… satu hari…
dari pada menahan… menyimpan… untuk berusaha melupakan “RASA”…
karena justru akan te“RASA”… setiap hari…”
……………………………………………………………………………………
Langganan:
Postingan (Atom)